Jumat, 19 September 2008

Bedakan HOAX dan FAKTA


2008/9/18, Ma'rufin Sudibyo :

FAKTA:


Gempa M9,0 yang berpusat di segmen Kepulauan Mentawai, Sumatra, terakhir terjadi pada 1883 silam, dengan rupture length 550 km dan total slip 13 m dengan estimasi kedalaman hiposentrum sekitar 10 - 20 km. Gempa ini menghasilkan emergence (pengangkatan) pada sejumlah pulau kecil di Kepulauan Mentawai sebagaimana terekam dalam terumbu-terumbu karang cincin mikroatol)di pulau-pulau tersebut.

Dari pola-pola emergence dan submergence yang ada pada mikroatol ini, memang pak Danny Hilman N dan rekan-rekannya dari Caltech maupun Puslitbang Geoteknologi LIPI berhasil mendeduksi adanya siklus 200an tahun dalam perulangan gempa-gempa besar di segmen tersebut (ingat, hanya di segmen Mentawai) berdasarkan elastic dislocation modelling. Tepatnya siklus itu bernilai 230 tahun. Namun ketidakpastiannya masih sangat besar (mencapai 30-an tahun), karena interaksi antara lempeng Australia dan Sunda di bawah segmen Kepulauan Mentawai cukup kompleks seperti terlihat pada gempa ganda September 2007 silam.

HOAX:

Cerita soal gempa M 9,0 yang katanya bersumber dari CNN, itu hoax yang muncul sejak 2006 silam pasca gempa dan tsunami Jawa 17 Juli 2006. Berita itu kemudian diulang-ulang terus setiap tahun, hanya divariasikan dengan mengganti tanggal. Ini sama saja dengan hoax "Mars sebesar bulan" yang muncul sejak Agustus 2004 dan selalu diulang-ulang terus setiap bulan Agustus.

Mendeteksi hoax soal gempa mudah saja. Perkembangan ilmu seismologi dan earthquake geology sejauh ini baru bisa menghasilkan konklusi bahwa suatu daerah (misalnya segmen Kepulauan Mentawai) lebih berpotensi meletupkan gempa dengan perkiraan magnitude maksimum sekian skala Magnitudo. Potensi itu dinyatakan dalan probabilitas untuk jangka waktu tertentu (misalnya seperti di San Andreas Fault, yang secara rata-rata disebut akan mengalami gempa M 6,0 + pada kurun waktu 30 tahun mendatang dengan probabilitas 60). Jadi tidak meramalkan kedatangan gempa pada waktu yang eksak.

EPILOG:

Ketimbang "meributkan" kapan gempa besar (M9,0 +)itu datang, pertanyaannya dibalik saja: sudah siapkah kita jika sewaktu-waktu gempa melanda tanah tempat kita tinggal dan berpijak? Sudahkah kita menyimpan surat-surat penting dalam satu tas? Sudahkah kita memiliki kotak P3K lengkap dengan senter? Sudahkah kita tahu bagian2 mana di kantor/rumah kita yang relatif lebih aman dari bahaya keruntuhan dibanding bagian yang lain? Sudahkah kita tahu ada beragam cara untuk menyelamatkan diri dari bahaya keruntuhan struktur bangunan akibat gempa, selain dengan melarikan diri ke tanah lapang? Menyiapkan hal-hal semacam itu jauh lebih berharga ketimbang main tebak-tebakan kapan gempa mengguncang.

Salam,

Ma'rufin


di posting melalui Dr. Iskandar Leman
konsultan dan pengamat masalah penanggulangan bencana alam di indonesia

Tidak ada komentar: